Showing posts with label Kisah Hidup. Show all posts
Showing posts with label Kisah Hidup. Show all posts

July 10, 2016

Kisah Gadis Lumpuh Pelukis Dari Buleleng, Tangannya Yang Lemah Mampu Menghidupi Keluarga

Kadek Windari (25) membuat sketsa lukisan di atas kanvas putih di rumahnya Desa Banjarasem, Kecamatan Seririt, Buleleng, Bali, Selasa (7/6/2016).
Saat itu ia sedang membuat sketsa lukisan bertema Bali Life, yang menggambarkan kehidupan masyarakat Bali tempo dulu.

Keterbatasan kondisi fisik tidak menghalanginya untuk berkarya.
Tangan kirinya menopang tangannya yang tumbuh lebih kecil dari tubuhnya untuk mensketsa obyek yang akan dilukis.

“Karena tulang tangan saya lebih lemah tidak kuat kalau untuk melukis tanpa ditopang,” kata Windari.

Fisik Windari mulai tumbuh tidak normal setelah terjatuh saat dirinya berusia enam tahun.
Sejak saat itulah ia tidak lagi sanggup berjalan dan beraktivitas seperti biasanya karena kedua kaki dan tangannya yang lumpuh.

Gadis ini sejak saat itu pula lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam rumah saja.
Nasib baik mulai menghampirinya sejak setahun lalu seorang pengusaha, Komang Santiawan yang memiliki hubungan baik dengan almarhum ayahnya, Ketut Punia memberikan bantuan alat lukis dan memotivasinya untuk mulai melukis.

Kadek Windari (25)
“Waktu itu Pak Santiawan bilang kalau gambar saya bagus dan dia bantu belikan saya kanvas, mulai saat itu saya belajar melukis di atas kanvas,” ucapnya.

Karya lukisannya kemudian diunggah ke media sosial oleh kakaknya, Putu Agus Setiawan (29) yang juga menderita kelumpuhan fisik.
Mulai saat itu banyak masyarakat yang merespon baik karya lukisan Winda. Pesanan pun mulai berdatangan.

“Pemasarannya lewat website dan facebook. Banyak yang pesan dari Jakarta, Malang, Solo, Yogyakarta, Tangerang dan kalau dari Bali banyak dari Denpasar,” tambah Agus.

Agus selama ini berperan sebagai marketing yang mempromosikan dan menerima pesanan lukisan dari media sosial.
Pesanan tidak saja datang dari dalam negeri, tetapi juga dari luar negeri seperti Singapura, Malaysia, Australia, Thailand, republik Dominika sampai Amerika.

Winda biasa melukis sesuai pesanan, seringkali orang memesan lukisannya tentang kehidupan masyarakat Bali.

Satu lukisan di atas kanvas berukuran 20x60 centimeter dihargainya senilai Rp 1,5 juta, sedangkan ukuran lebih besar 60x90 centimeter dijualnya seharga Rp 2,5 juta.
Dalam waktu sebulan Winda bisa mengerjakan dua pesanan lukisan besar atau tiga lukisan kecil dengan pendapatan rata-rata Rp 5 juta.

“Sekarang dari hasil melukis setahun lalu sudah bisa merenovasi rumah dan membelikan saya sepeda motor. Winda sekarang merupakan tulang punggung keluarga sejak ayahnya meninggal dua tahun lalu. Kalau saya lebih sibuk merawat ketiga anak saya ini,” kata ibunya, Ketut Warsiki (46).

Winda bercita-cita ingin menyekolahkan adiknya, Bunga Ayu Lestari (5) hingga ke tingkat pendidikan tinggi.
Gadis ini sehari-hari tinggal bersama ibunya, kakaknya Agus dan adiknya Bunga.

Sementara Agus yang juga menderita kelumpuhan yang hampir sama kini sedang dalam proses menerbitkan buku otobiografi keluarga.
Dahulu sebelum kelumpuhannya lebih parah, laki-laki ini juga piawai melukis, tetapi sejak tak lagi bisa melukis kini ia beralih menjadi penulis buku. (via Tribun Bali)

July 9, 2016

Minim Cowok di Bali , Kini Mencari Sentana di Bali Bikin Galau

Sekarang kebanyakan rumah tangga Bali memprogramkan punya anak cukup 2 saja. Bahkan tidak sedikit keluarga yang punya anak cuma 1 orang. Sehingga sering ada kelakar bernada keluhan : “Nama Nyoman dan Ketut sekarang makin langka di Bali.” Kalaupun ada yang sampai punya anak 3, kebanyakan karena 2 anak sebelumnya lahir perempuan. Sehingga berharap anak ke-3 akan lahir anak laki-laki.

Konon sekarang ini kebanyakan yang lahir adalah anak-anak jenis kelamin perempuan. Nyatanya banyak keluarga yang punya anak 2 atau bahkan anak tunggal perempuan. Kalau anak pertama kebetulan lahir cowok (laki-laki), cenderung keluarga tersebut akan bertahan, berhenti punya anak lagi karena dirasakan sudah cukup punya anak 1, apalagi sudah dapat anak laki-laki.

Begitulah kecenderungan sekarang pada keluarga di Bali. “Punya anak 1 atau 2 sudah cukup. Yang penting sehat, bisa menghidupinya, menyekolahkannya. Lagipula kalau punya anak banyak, biaya hidup, biaya untuk menyekolahkan nanti bebannya sangat tinggi,” demikian alasan yang sering kita dengar. Nah semasih kecil, saat sekolah dan hingga menginjak remaja semua berjalan baik-baik saja. Bahkan orang tua semangat menyekolahkan setinggi-tingginya, tanpa memandang dan membedakan anak perempuan atau anak laki-laki.

Pernikahan Adat di Bali (foto rka)

Mulai Galau, Ketika Anak Sudah Mulai Dewasa

Setelah tamat sekolah atau kuliah, kemudian bekerja. Si orang tua yang kebetulan punya anak tunggal atau semuanya perempuan, akan mulai dihinggapi kegalauan. Anak sudah beranjak dewasa, sudah sepantasnya untuk membina rumah tangga. Kalau punya anak 2 orang semua perempuan, anak yang mana diajak di rumah? Maukah dia dicarikan sentana?

Sentana adalah posisi laki-laki dalam perkawinan menjadi posisi perempuan. Dan nantinya melakukan segala sesuatunya menggantikan posisi mertua laki-laki dalam urusan adat di rumah atau lingkungan keluarga istri.

Kalaupun mau, dan seandainya sudah punya pacar, sudahkah mereka sampaikan ke pacarnya bahwa dia akan tinggal di rumah keluarga si istri nantinya. Maukah (siapkah) pacarnya nyentana ?

Itulah kegalauan perasaan dan pikiran para orang tua terhadap anak gadisnya yang sudah beranjak dewasa. Di Badung, Denpasar, Gianyar dan Tabanan tradisi (adat) nyentana itu masih bisa diterima. Namun meski diterima secara adat, nyatanya banyak anak gadis dan para orang tua didera perasaan galau. Karena “terbatasnya” anak laki-laki yang tersedia dan bersedia nyentana. Pada masa lalu, mungkin masih mudah mencari sentana. Karena sebuah keluarga Bali sudah biasa punya anak banyak. Sehingga saat itu nama Nyoman, Ketut bahkan Wayan Balik, Made Balik banyak kita jumpai.

Kondisi yang sebaliknya sekarang ini, menjadikan bukan saja para orang tua yang diliputi perasaan was-was dan galau, para gadis pun tidak kurang diterpa oleh “beban” pikiran itu. Maka tak sedikit mereka menumpahkan perasaannya di media sosial dengan berbagai ungkapan, kadang bercanda, menggelitik, bahkan juga serius. Ungkapan-ungkapan yang mengarah untuk mencari sentana itu, mengundang candaan laki-laki untuk sekedar jail atau iseng.

Sebagian daerah di Bali menerima tradisi nyentana. Namun sebagian lagi daerah di Bali tidak ada (belum menerima) tradisi nyentana. Ditambah sekarang, keluarga di Bali kebanyakan keluarga punya anak 1 atau 2 orang. Menjadikan usaha sebuah keluarga maupun anak gadis untuk mencari sentana lumayan membuat galau. (via Suluhbali.co)

Sepasang Suami Istri di Jawa Tengah Lebih Memilih Masuk Agama Hindu, Apa Alasannya Memilih Agama Hindu?

Pura Dharma Loka Jepara Jawa tengah mendadak ramai dikunjungi dengan pakaian adat khas Bali, Ada apa gerangan? o o o… ternyata ada sepasang suami istri di Suddhi Wadani (masuk Agama Hindu). Ruji(Suami) dan Very(Istri) yang sebenarnya baru saja menikah beberapa hari yang lalu.

Sepasang suami istri tersebut berasal dari Agama Muslim (Islam) dan dari keturunan orang Muslim juga. Sepasang suami istri tersebut diupacarai Suddhi Wadani oleh Ketua PHDI kab. Jepara Bapak Ngardi dan Pemangku Supaeno di pura Dharma Loka desa Plajan (Merupakan desa wisata Jepara), yang di hadiri juga oleh Peradah Jepara, Perwakilan pemuda Hindu Singkawang Kalimantan Barat, umat Hindu setempat serta pihak dari keluarga suami,istri serta para saksinya.

Foto Pernikahan Ruji dan Very

Memang bisa dikatakan sedikit aneh, baru beberapa hari menikah dan asal mula mereka pemeluk agama Islam (Muslim), tetapi selang beberapa waktu mereka sepakat untuk menjadi umat Hindu. Dari kabar yang ada dan dari pembicaraan saya dan Ruji (yang di suddhi wadani), dia mengaku sudah lama tinggal dengan Bapak Supar (salah satu umat Hindu di Jepara) dan semenjak itu Ruji sedikit demi sedikit memahami Hindu dan serta ketenangan batinya akan adat jawa yang bisa dikatakan condong ke arah leluhur yang bisa dikatakan kental dengan ajaran Hindu, karena Hindu mengajarkan Pitra Yadnya serta Tri Hita Karana. Oleh sebab itulah Ruji selaku suami dari Very sudah bulat tekat dan batinya untuk memeluk agama Hindu.

Walaupun tidak sedikit rintangan yang menghadang mereka seperti untuk meyakinkan orang tua masing-masing dari mereka, keluarga mereka, bahkan cemo’ohan dari pergaulan serta dari tetangga-tetangga mereka yang tidak berkenan akan keputusan mereka. Yah, habis gelap terbitlah terang. Kini mereka sudah sah sebagai pemeluk Hindu. Semoga perkawinan mereka selalu dianugrahi Sang Hyang Widhi Wasa dengan menjalankan ajaran-jaran Hindu.

Kiranya ini bisa dijadikan contoh dan peningkat Sradha bagi umat Hindu di seluruh daerah, khususnya bagi muda mudi Hindu yang belum menikah agar menjaga dan mempertahankan keyakinan Sradhanya di Hindu. Dalam bahasa asal “orang non Hindu tidak ada dasar Hindu, tidak ada garis keturunan Hindu saja bisa dan kuat menghadapi rintangan yang terbilang berat untuk menjadi Hindu, masak kita sebagai muda mudi Hindu tidak bisa sehebat dan sekuat mereka berdua untuk mempertahankan dan menjalankan Hindu kita?”.

Memang ada beberapa kejadian, mungkin bisa dikatakan banyak pemuda dan pemudi Hindu yang keluar dari Hindu dikarenakan beberapa faktor seperti Pernikahan (Cinta atau kasih sayang), broken home dan bahkan mungkin dikarenakan harta atau alasan lainya. Tetapi “APAKAH ITU PANTAS?” tidak malu kah mereka kepada teman, saudara, orang tua? tidak malu kah mereka kepada Sang Hyang Widdhi? dan apa mereka itu tidak malu juga kepada diri mereka sendiri serta hati kecil mereka yang kebanyakan masih cinta kepada Hindu? sudah banyak contoh Karma yang terjadi kepada mereka yang melepaskan Hindu-nya.

Sudah banyak pula mereka itu yang menyesali itu. Apa kita mau mengambil resiko itu? saya kira lebih baik mengatakan dalam hati dan dalam diri “Pakaian saya mungkin rombeng, tetapi hati dan diri saya Hindu”.
Demikian kiranya bisa menjadi penambah Sradha (Keyakinan) bagi pemeluk Hindu di Nusantara.

Saya bukanlah jurnalis penulis berita, hanya menyampaikan informasi yang ada dari Umat Hindu Jepara Jawa Tengah. Kiranya ada kekurangan dalam penulisan, kesalahan, atau kata-kata yang kurang pas pada tulisan ini saya pribadi mohon ma’af.

Sumber : hindujepara.wordpress.com , republished by Mediahindu.com

Kisah Nyata: Saya Memilih Agama Hindu Dan Perjuanganku Menggapai Hindu

Perkembangan Hindu di Hongkong

Semua berawal ketika saya masih kecil, saya dilahirkan di Yogjakarta Hadiningrat dalam keluarga islam. Namun ada beberapa orang yang masih menganut kejawen salah satunya adalah kakek saya. Saya banyak mengetahui tentang kejawen tapi saya tidak tahu antara kejawen dan hindu banyak kemiripan boleh di bilang hampir sama. Saya juga suka pergi ke candi peninggalan kerajaan Hindu dan betah berlama-lama disana. Seakan saya menemukan ketenangan tersendiri, itu saya lakukan tanpa sepengetahuan keluarga saya karena jika ketahuan saya pasti kena marah. Aneh yae, seharusnya saya rajin ke masjid bukan ke candi tapi itulah yang saya lakukan.

Mengingat keluarga saya yang tidak mungkin menerima jika saya memilih agama Hindu, saya selalu melakukan itu dengan sembunyi. Saya belajar dan kesana kemari dan berusaha mencari lebih banyak lagi tentang Hindu. Dan meyakinkan diri bahwa Hindu memang terbaik buat saya. Saya tidak ingin setelah memeluk Hindu namun belum mempunyai keyakinan yang tetap maka saya akan kembali kepada agama semula.

Semakin saya mengetahui Hindu yang sebenarnya, maka kemantapan saya semakin bertambah. Namun saya belum cukup berani menanggung resikonya, terutama kemarahan keluarga saya. Tapi hati saya berontak terhadap agama sebelumnya, hati saya telah yakin bahwa saya lebih mencintai Hindu sebagai agama pilihan saya.

Pergolakan batin itu terus berlanjut tanpa tahu kapan akan berakhir? kapan aku punya kekuatan dan nyali untuk mengakui bahwa aku ini Hindu? Hingga suatu hari aku bertemu dengan teman umat sedharma yaitu mbak luluk dari Banyuwangi dan yeni yang sama-sama bekerja di Hongkong. Aku utarakan niat ku kepada mereka dan aku tanyakan dimanakah puranya? Dan ternyata mereka menemukan aku dengan teman sedharma yang lain yang telah mempunyai perkumpulan di Hongkong.

Dari sambutan teman-teman yang sangat bersahabat itulah aku menemukan ketenangan, kehausan hatiku seakan terobati dan aku mulai gundah dengan keadaan ini. Aku harus mempunyai pilihan, setelah aku pikirkan matang bahwa inilah pilihan yang terbaik buat ku yaitu meninggalkan agama islam dan memeluk Hindu sebagai agama ku.

Apakah semudah itu? Ternyata tidak! Apa yang aku takutkan selama ini menjadi kenyataan, saat mendengar aku pindah agama Hindu ibuku langsung pingsan dan akulah yang disalahkan oleh seluruh keluarga, teman dan saudara. Bahkan aku dilarang pulang ke yogjakarta karena dianggap sebagai anak durhaka dan murtad.

Air mata mengalir tak henti-henti, keluarga membenciku, teman-teman muslim di hongkong menjauhiku. Bahkan ada yang tega menghasut majikan ku agar aku dipecat. Semua membuatku bingung, namun kehadiran teman-teman sedharma selalu memberi ku semangat, kekuatan, ketegaran dalam menghadapi ini semua dan meyakinkan bahwa aku tidak sendiri. Itu semua membuat aku tenang.

Hanya kesabaran yang aku miliki untuk menerima ini semua sebagai cobaan dari Ida Sang Hyang Widi Wasa dalam menguji keyakinan ku, apakah aku benar-benar memilih Hindu sebagai agama ku. Berat memang namun aku yakin bisa melewati semua ini.

Sebagai penganut Hindu yang baru, tentu aku masih terlalu awam untuk mengerti apakah Hindu yang sebenarnya. Maka dukungan dari teman-teman sangat saya harapkan. Mulai dari bagaimana cara sembahyang (Tri sandya) dan juga mantra-mantra yang harus aku pelajari dari nol.

Dukungan dan semangat yang terus mengalir dari teman-teman sedharma membuatku bahagia, bahwa diantara kesedihan yang diberikan pada ku masih terselip kebahagiaan.

Bukankah Sri Kresna bersabda: tiga pintu gerbang neraka yang menuntun jiwa menuju kehancuran adalah nafsu, amarah dan ketamakan. Itulah yang aku jadikan pegangan dalam menghadapi segala cobaan dan rintangan ini.

Laksana tangga yang ku tapaki dengan hati yang mantap, jatuh bangun kurasakan dalam menggapai Hindu, Bukan hal yang mudah untuk di lewati. Begitu juga harapan ku kepada semua teman di Hongkong: Jadilah sinar yang menerangi kegelapan bukan hanya untuk diri sendiri tapi juga untuk orang lain. Lupakan ego dan kepentingan pribadi, bersatulah agar kita tidak dipandang sebelah mata oleh orang lain.

Dengan bergandengan tangan membangun Hindu, dengan kesadaran bahwa Hindu adalah milik kita bersama maka kita akan menjadi umat yang lebih baik. Harapan ku disini setelah segala cobaan yang aku hadapi ini aku akan memetik hasil yang lebih manis dan diterimanya aku kembali oleh keluarga ku.

Penulis : Ayu sekartaji

July 8, 2016

Kisah Sedih Roh Pak Made Akibat Meninggalkan Hindu Demi Cinta Buta

Pada saat ini di beberapa daerah di Bali sedang dilakukan upacara Ngaben (upacara pembakaran mayat yang biasa dilakukan oleh umat Hindu). Ada sebuah kisah seorang yang kini ikut di abenkan. Kisah ini saya dengar dari saudara istri saya di Klungkung.

Kisah ini dimulai pada akhir tahun 1960-an. Satu keluarga di Klungkung yang cukup berada, mengirimkan anak-anaknya untuk bersekolah di Yogyakarta. Anaknya yang nomor dua, sebut saja namanya Made, sebelum tamat kuliah menikah dengan seorang gadis setempat, secara pernikahan agama lain. Perkawinan ini tidak dapat diterima oleh orang tuanya. Made dianggap anak hilang. Sejak ini hubungan orang tua dan anak putus. Made tidak pernah pulang ke Klungkung. Bahkan ketika kakaknya yang tertua menikah dan ayahnya meninggal dia tidak datang. Ibunya demikian juga. Sekalipun sering ke Yogya menengok anak-anaknya yang lain, ia tidak pernah menemui keluarga Made.

Sejak menikah Made tidak meneruskan kuliahnya. Karena tidak lagi dibiyayai oleh orang tuanya, ia membiayai hidupnya dengan berjualan beras. Karena dia ulet, usahanya jadi berkembang. Hidupnya cukup makmur. Keluarga Made memiliki 3 orang anak laki-laki. Dua anaknya ikut Made masuk agamanya yang sekarang. Seorang anaknya entah kenapa menolak masuk agama orang tuanya. Ketika SD, anak ini pergi ke Bali, dan tidak mau balik ke Yogya. ia tinggal bersama neneknya di Klungkung.

Prosesi Ngaben di Bali via Bali-99.com

Lima tahun yang lalu Made meninggal, Istrinya menyusul 2 tahun kemudian. Untung anak-anak mereka, termasuk yang di Bali sudah selesai kuliah dan sudah ada yang bekerja.

Sekarang cerita kembali ke Bali. Sejak meninggal 5 tahun lalu, Made sering mendatangi ibunya di Bali, baik dalam mimpi maupun dalam keadaan terjaga. Ibu ini sekarang sudah berusia sekitar 70 tahun. Matanya sudah rabun berat. Tapi dalam jaga ia sering melihat anaknya made datang ke rumahnya, kadang-kadang duduk di tangga rumah, kadang-kadang menemuinya di dapur. Ingat ibu ini sudah rabun berat. Ia tidak bisa melihat siapapun. Tapi ia melihat sosok made yang sudah meninggal dengan jelas. Mungkin yang melihat adalah mata bathin-nya? Ia juga mendengar suaranya dengan jelas. Made sering mendatanginya dan menangis sedih sekali.

“Kenapa kamu Made,” tanya ibu ini satu kali.

Tyang ngidih pelih Me. Tulung kedetin tiang” (saya minta maaf Ma. Tolong tarik saya. Secara harfiah arti ‘kedetin’ ditarik dari tempat yang rendah ke tempat yang lebih tinggi, dari tempat yang gelap ke tempat yang terang, dari penderitaan kepada kebahagiaan , dari kematian kepada kehidupan. Arti simboliknya di Abenkan ( NGABEN).

“Tapi kulit Made kan sudah lain”. ( maksudnya agamanya kan sudah beda ).

“Ya, Saya salah jalan. Sekarang saya berada di lorong yang gelap. Saya tidak bertemu siapa-siapa. Saya dengar istri saya sudah meninggal. Tapi saya tidak bertemu dengan dia. Saya kesepian sekali di sini, Me.

Tolong kedetin tiang”.

Walaupun hatinya iba, ibu tua ini tidak berani mengabenkannya, karena Made sudah masuk agama lain dan di upacarai menurut keyakinan agama tersebut. Betapapun anaknya yang hilang kini telah kembali walaupun dalam bentuk roh. Tapi begitu nyata. Begitulah tampaknya hubungan ibu dengan anak.

Entah karena kehendak siapa, kira-kira dua bulan lalu ibu tua ini kedatangan 2 orang tamu. Kedua orang muda itu mengaku datang dari Yogya. Mereka adalah anaknya Made. Jadi secara biologis mereka adalah cucunya, entah secara batin yang tak pernah di lihatnya secara kecil. Kini mereka datang. Dan ia tak dapat mengenali mereka karena ia rabun berat. Tapi ia dapat mendengar suara mereka dengan jelas.

Setelah masing-masing memperkenalkan namanya, salah seorang dari mereka berkata: “sebelum ibu kami meninggal tiga tahun yang lalu, ia memberi tahu kami bahwa ayah sebelum meninggal liam tahun lalu, berpesan kepada Ibu agar ia di upacarai secara Hindu. Tapi ibu tidak pernah menyampaikan pesan itu kepada siapapun sampai sebelum ibu meninggal tiga tahun yang lalu.

Selama dua tahun pesan Made di pendam oleh istrinya. Selama tiga tahun lagi di pendam oleh anak-anaknya. Tiba-tiba dua bulan lalu mereka berniat untuk menyampaikan pesan itu kepada neneknya di Klungkung, Bali. Apakah Pak Made yang memberitahu anak-anaknya, melalui mimpi atau dalam jaga, seperti ia membritahu ibunya? Anak-anaknya tidak menyebut-nyebut soal ini.

Setelah mendengar wasiat Made yang tertunda selama lima tahun, keluarga di bali langsung ke Yogya untuk membongkar kuburan Made, mengambil tulangnya untuk di aben di Bali. Tapi oleh petugas pemakaman permintaan pembongkaran itu di tolak. Karena dulu Made dikubur secara agama LAIN BUKAN Hindu. Keluarga ini pulang ke Bali. Pengabenan Made tetap dilangsungkan. Ia dibuatkan pengadeg-adeg (semacam simbol dari Made) dari kayu cendana.

Mudah-mudahan setelah pengabenan Made bahagia dan tentram di dunia sana.

Demikianlah kisah nyata yang diceritakan oleh Bapak NGAKAN MADE PUTU PUTRA INI. Menurut tanggapan saya, ceritanya ini sangat menarik. Jadi pesannya: apapun agama, bagaimana pun susah dan ketatnya agama tersebut, seberapa besarpun kecintaan kalian terhadap seseorang, sebaiknya jangan coba-coba untuk berpindah keyakinan karena mungkin saja agama tersebut belum tentu cocok untuk kalian. Karena Tuhan telah menentukan takdir kalian dimana sejak lahir, maupun masih dalam kandungan Ibu.

Tapi sebenarnya juga Tuhan itu hanya ada satu. Menurut pandangan saya, agama adalah suatu organisasi atau kelompok yang menyembah tuhan dengan nama dalam bentuk yang mungkin berbeda-beda. Tapi yang mereka semua sembah itu adalah sama, yaitu Tuhan.

Penulis : Raras Sani