Showing posts with label Agama Hindu. Show all posts
Showing posts with label Agama Hindu. Show all posts

July 10, 2016

Ini Makna dari "Amor Ring Acintya" , Umat Hindu Wajib Baca !

Amor Ring Acintya adalah kata yang sudah tidak lasim lagi ditelinga kita apalagi bagi para umat Hindu di Bali. Kata ini biasanya diucapkan ketika ada orang meninggal dunia. Biasanya dalam masyarakat mengucapkan “Dumogi Amor Ring Acintya”.

Kata Dumugi berarti semoga. Amor berarti bersatu atau menghilang, atau Menuju kedalam situasi ketiadaan atau tidak tampak. Acintya berarti tidak tersentuh oleh pikiran. Dalam konteks filsafat disamakan dengan sūkṣma dan śūnya. Jadi Dumogi Amor Ring Acintya adalah semoga menyatu dengan “yang mahasuci yang maha tidak terpikirkan” atau semoga bersatu dalam ke Dewataan Tertinggi (Acintya).

Sang Hyang Acintya

Tertera dalam Sastra Jawa Kuna mengatakan beberapa baris terkait dengan ungkapan di atas. Berikut kutipan dari naskah kidung dan kakawin Jawa Kuno:

Amor ring Widhi ada dalam Kidung Sunda disebut ‘saṅ wus amor iṅ widi.
Amor ring Śiwātmaka ada dalam naskah Wangbang Wideha,‘agya ni ṅwaṅ amor iṅ Śiwātmaka.
Amor ring dewata ada dalam Kidung Harsa-Wijaya: ‘saṅ wus amor iṅ dewata; saṅ wus amor iṅ dewa; saṅ wus amor i widi.

Ungkapan tersebut ditujukan kepada para raja, atau orang suci, yang dimaksudkan ‘saṅ wus amor iṅ dewata’ (beliau yang telah kembali ke alam kedewataan’, adalah beliau-beliau yang suci, yang terhormat, ‘memenangkan kehidupan ini’ dan kembali ke alam kedewataan. Jika ingin kembali ke alam kedewataan, tentunya kita harus punya kualitas kedewataan dulu. Kalau kualitas diri kita hanya KW2 atau KW3 tujuan itu akan semakin jauh. Slogan tinggal slogan.

Amor ring Acintya tidak lain cita-cita kemanusiaan terdalam ajaran Siwa, Buddha, dan Hindu pada umumnya, yang kita kenal sebagai pencapaian ‘Moksa’ atau ‘Nirvana’.

Di Bali kita mewarisi lontar-lontar berbahasa Jawa Kuno yang menjadi panduan dalam meningkatkan kualitas diri kita dari KW2 atau KW3 menuju jiwa yang ‘orisinil’. Lontar-lontar tersebut antara lain: Aji Kadyatmikan, Aji Kamoksan, Aji Putus, Dharma Sunya, Dharma Patanjala, Wṛhaspatitattwa, dstnya. ‘Amor ring Acintya’ di dalam lontar-lontar tersebut mempunyai padanannya yaitu: sūkṣma dan śūnya.

Amor ring Acintya adalah tujuan tertinggi semua naskah-naskah tersebut. Di salah satu naskah tersebut, yaitu Wṛhaspatitattwa, disebutkan dalil asal muasal kita harus kita pahami jika kita ingin kembali ke asal muasal kita, alam kedewataan. Logikanya: Jika mau sampai tujuan kita harus mengenal jalan. Jika kita mau ke asal muasal kita, bagaimana kita sampai ke asal jika tidak mengerti prinsip asalmuasal kehidupan? Bagaimana tidak mengenal jalan berharap sampai di tujuan? Langkah-langkah dalam lontar-lontar di Bali disebutkan: Pertama mengenal prinsip tattwa atau prinsip penciptaan dan asal muasal. Kedua mengenal jalan, selanjutnya menempuh jalan, dan dijalani dengan penuh ketulus-ikhlasan ketika menempuh jalan. Disebutkan, setelah tahapan-tahapan itu terjalankan dengan kesempurnaan baru kemungkinan sampai tujuan (Amor Ring Acintya)

Dalam buku Samsara Perjalan atman juga dijelaskan bahwa Faktor kunci di alam kematian adalah samskara [kesan-kesan pikiran] kita sendiri. Perjalanan atma di alam kematian digerakkan oleh energi yang sama dengan energi yang membentuk pikiran. Kecenderungan pikiran yang negatif saat kematian akan membawa kita menuju alam-alam yang gelap dan sebaliknya kecenderungan pikiran yang positif saat kematian akan membawa kita menuju alam-alam yang terang. Karena lapisan badan kita di alam kematian digerakkan oleh bahan-bahan energi yang sama dengan yang membentuk pikiran kita. Sehingga setelah mati kita kemudian akan tinggal atau pergi terbawa pada salah satu alam-alam halus yang paling sesuai dengan kualitas dan kecenderungan pikiran kita sendiri.

Dengan kata lain, faktor paling menentukan dalam menyambut kematian adalah bagaimana evolusi keadaan bathin kita semasa kehidupan dan keadaan bathin kita di menit-menit dan detik-detik terakhir ketika kehidupan kita akan berakhir. Itulah yang akan sangat menentukan kita akan pergi kemana. Mereka yang saat kematian tidak siap, penuh ketidakrelaan karena keterikatan duniawi, penuh rasa sakit, takut, ragu, bingung, melawan, apalagi dalam sifat kejam [tanpa welas asih], dalam kemarahan-kebencian, sangat mungkin nantinya pada proses kematian akan memasuki perjalanan yang gelap.

Inilah sesungguhnya yang dimaksud dengan kematian salah pati. Sebaliknya, kalau di menit-menit dan detik-detik terakhir ketika kehidupan berakhir, kita mengalami kedamaian bathin, sangat mungkin nantinya pada proses kematian akan memasuki perjalanan yang terang. Dan yang paling baik [kalau memungkinkan] tentunya kita bisa amor ring acintya, menyatu dengan “yang mahasuci yang maha tidak terpikirkan”. Jiwa yang sudah terbebaskan [jivan-mukti] akan seketika mengalami moksha [pembebasan sempurna].

Karena itu sangat penting diinformasikan kepada orang-orang yang akan meninggal, di menit-menit dan detik-detik terakhir ketika kehidupan akan berakhir, sangat penting mengalami menit-menit dan detik-detik terakhir yang shanti [damai]. Di jalan dharma kematian adalah perjuangan spiritual yang paripurna. Itulah sebabnya bagi para yogi, para mpu, para danghyang, para maharsi, mengajarkan bahwa tugas spiritual pokok manusia semasa hidupnya adalah membina diri melenyapkan sad ripu [enam kegelapan bathin] dan menumbuhkan sifat penuh welas asih dan kebaikan. Gunanya agar ketika kematian itu benarbenar datang, kita sudah sangat siap dan bisa mengalaminya dalam keadaan yang sangat shanti

Sumber : Budayabali via Daerahbali.com

July 9, 2016

Mengapa Umat Hindu Menghormati Sapi? Ini dia Alasannya !

Melihat banyaknya arca-arca sapi di tempat suci Hindu baik yang ditemukan di situs purbakala maupun di tempat-tempat suci yang masih aktif digunakan sebagai tempat peribadatan mengundang sebuah anggapan salah kaprah terhadap Hindu. Orang sebagian besar orang, Hindu identik dengan penyembah sapi. Apa lagi pada kenyataannya sebagian besar umat Hindu di dunia berpantang untuk mengkonsumsi daging sapi. Benarkah Hindu memuja Sapi?

Berdasarkan peradaban Veda, sapi memang merupakan binatang yang sangat di sakralkan. Diuraikan bahwa sapi merupakan lambang dari ibu pertiwi yang memberikan kesejahtrean kepada semua makhluk hidup di bumi ini. Karena itulah para umat manusia diajarkan untuk tidak menyemblih dan memakan daging sapi. Selain mempunyai manfaat di dalam kehidupan rohani, sapi juga memelihara kita di dalam kehidupan material kita seperti misalnya dengan memberikan susu sapi dan berbagai produk susu. Selain susu dan berbagai produk, sapi juga memberikan berbagai jenis bahan obat-obatan seperti misalnya kencing sapi dan tahi sapi yang bahkan ilmuwan modern sekalipun menerima bahwa air kencing sapi dan kotoran sapi mengandung zat anti septik yang bisa digunakan untuk mengobati berbagai jenis penyakit. Di India, didalam sistem pengobatan Ayur Veda, terdapat teknik yang di sebut pengobatan panca gavya. Panca gavya adalah lima jenis produk yang di hasilkan oleh sapi yaitu; susu, yogurt, ghee, kencing sapi dan kotoran sapi. Panca gavya ini diangap sebagai bahan bahan yang menyucikan. Bahkan di dalam yajna dan memandikan pratima di berbagai kuil, bahan bahan ini sangat diperlukan. Tanpa panca gavya, seseorang tidak bisa menginstalasi pratima di dalam kuil. Selain bahan bahan yang bisa di komsumsi dari segi material, sapi juga membantu para petani di dalam berbagai hal. Sapi jantan di gunakan untuk membajak dan kotoran sapi digunakan untuk pupuk.



Sri Krsna sendiri yang muncul ke dunia material ini memberikan contoh kepada kita semua untuk menghormati sapi. Beliau bahkan lebih memementingkan sapi dari semua makhluk hidup lainya termasuk para brahmana. Seprti diuraikan di dalam sastra

“namo brahmaëya-deväya go-brähmaëa-hitäya ca jagad-dhitäya kåñëäya govindäya namo namaù”.

Di vrndavan, tradisi menghormati sapi-sapi masih berlangsung sampai sekarang. Di beberpa tempat di daerah pedalaman di Vraja bumi, ketika mereka memasak roti (capati), roti pertama akan diberikan kepada sapi karena mereka mengangap bahwa krsna hanya akan menerima persembahan kalau mereka memuaskan sapi-sapi dan para brahmana. kemudian roti kedua di berikan kepada orang suci yan kebetulan lewat di daerah desa tersebut dan roti lainnya, di persembahkan kepada Sri Krsna.

Disini hendaknya kita membedakan istilah menghormati dan memuja. Orang Hindu memperlakukan sapi secara istimewa adalah untuk menghormati sapi, bukan memuja sapi. Hindu hanya memuja satu Tuhan, “eko narayanan na dwityo”sti kascit” tapi menghormati seluruh ciptaan Tuhan, terutama yang disebut ibu, para dewa yang mengatur alam material dan semua umat manusia.

Dalam tradisi Hindu dikenal beberapa entitas yang dapat disebut sebagai ibu yang harus kita hormati, yaitu;


  • Ibu yang melahirkan kita, yaitu ibu kandung kita sendiri.
  • Ibu yang menyusui kita walaupun tidak mengandung kita.
  • Ibu yang memelihara dan mengasuh kita walaupun tidak melahirkan dan menyusui kita.
  • Sapi yang telah memberikan kita susu, sumber panca gavya dalam pengobatan Ayur Vedic dan juga yang tenaganya telah kita gunakan untuk membantu pekerjaan-pekerjaan kita.
  • Ibu pertiwi, yaitu bumi dan alam ini yang telah memberikan penghidupan pada kita dan harus kita jaga kelestariannya.


Sekarang kita gunakan hati nurani kita, apakah kita akan tega membunuh dan memakan daging sapi yang sudah kita minum susunya, yang sudah membantu pekerjaan-pekerjaan fisik kita dalam menarik pedati dan juga membajak sawah?

Disaat manusia dapat dengan mudahnya membunuh, memotong kepala ayam dan sapi tanpa perasaan, maka disaat itulah mereka akan memotong kepala manusia dan bahkan ibu kandungnya sendiri seperti memotong kepala seekor ayam.

Kita tentunya masih teringat di masyarakat kita di kalangan hindu di Bali. Ketika saya masih kecil, orang tua saya sering memperingatkan bahwa kalau kamu makan daging sapi, kamu tidak boleh datang ke pura tanpa mandi terlebih dahulu. Peringatan ini di berikan oleh orang tua saya dan sudah merupakan peringatan turun temurun dari nenek moyang kami. Namu sayangnya beberapa orang berangapan bahwa karena kalau kita makan daging sapi, maka kita tidak bisa masuk ke pura, itu berarti sapi adalah binatang haram. Ternyata setelah kita amati dan mempelajari kitab suci veda, ternyata sapi merupakan binatang yang suci yang dihormati oleh para dewa sekalipun. Bukanlah karena sapi merupakan binatang haram, maka kalau kita makan daging sapi kita tidak bisa ke pura tetapi karena sapi merupakan binatang yang sangat suci, sehinga kalau kita memakan daging sapi, maka kita diangap orang yang sangat berdosa, degan demikian tidak bisa masuk ke pura. Karena itu, setelah makan daging sapi, kita harus menyucikan diri, paling tidak mandi terlebih dahulu sebelum memasuki tempat suci.

Ini bukan berarti bahwa kita bisa berlangsung memakan daging sapi dan kemudian mandi dan menyucikan diri. Tidak! Itu bukanlah proses prayascita yang sejati. Proses prayascita yang sejati adalah menyucikan diri dari perbuatan berdosa, merenungkan kegiatan berdosa tersebut dan berusaha untuk menghindari kegiatan tersebut. Kita hendaknya tidak melakukan prayascita seperti gajah mandi. Sri Pariksit maharaj di dalam Srimad Bhagavatam menguraikan sebagai berikut.

kvacin nivartate ‘bhadrät

kvacic carati tat punaù

präyaçcittam atho ‘pärthaà

manye kuïjara-çaucavat
Kadang kadang, orang sadar akan kegiatan berdosa namun melakukan kegitan berdosa lagi. Dengan demikian saya mengangap proces melakukan kegiatan berdosa yang berulang ulang dan penyucian berulang ulang sebagai hal yang tidak berguna. Ini sama halnya dengan gajah mandi ( kunjara-sauca-vat), karena gajah membersihkan dirinya dengan mandi namun begitu selesai mandi dan kembali ke daratan, sang gajah akan menghamburkan lumpur pada kepala dan badannya. ( Srimad Bhagavatam, 6.1.10).

Jadi ajaran dari orang tua kita, tidak boleh ke pura setelah makan daging sapi, hendaknya diambil serius dan menghindari daging sapi selama lamanya dan berusaha mengerti keagungan sapi. Diuraikan juga bahwa orang yang membunuh sapi, atau makan daging sapi, akan menderita di planet neraka selama ratusan tahun untuk membayar satu dari bulu sapi yang mereka makan. kalau seseorang makan daging sapi yang memliki seratus ribu bulu, maka orang tersebut mesti menderita di neraka selama 100.000 dikali 100 tahun. Sudah tentunya kita menghindari penyemblihan sapi dan makan daging sapi bukan karena takut untuk masuk neraka tapi karena rasa kasih sayang kita kepada sapi yang telah berkenan memberikan kita berbagai jenis makanan seperti yang telah diuraikan di atas.

Sumber : Narayana Smrti

Prasasti Ini Jadi Ikatan Kerukunan Umat Hindu dan Islam di Karangasem Bali

Banjar Bukit Tabuan, Desa Bukit, Kecamatan/Kabupaten Karangasem, Bali memiliki tingkat kerukunan antar umat beragama sejak abad 16 Masehi. Meski berbeda keyakinan, namun umat Hindu dan Islam di Banjar Bukit Tabuan tampak seperti saudara.

Mereka tak pernah berselisih. Warga hidup berdampingan di wilayah yang ada di atas Pegunungan Seraya. Kerukunan antar umat beragama ini dipersatukan prasasti yang diyakini sakral. Umat muslim di Banjar Bukit Tabuan telah ada sejak abad 16 Masehi.
Saat itu mereka dipindahkan Raja Karangasem Anak Agung Ngurah Karangasem dari Yeh Kali menuju Pegunungan Seraya.

Sejumlah krama melaksanakan upacara di Banjar Bukit Tabuan, Desa Bukit Karangasem

Sejak saat itu, tali persaudaraan antar sesama terjalin.

Seperti tolong menolong dan saling membantu antar sesama sudah biasa.
“Kemarin saat Safaran dan Galungan, acaranya jadi satu. Kami melakukan acara bersamaan di sekitar prasasti. Namun kami bergantian melaksanakan. Toleransi di sini kental sekali,” kata seorang warga Banjar Bukit Tabuan, Abu Rahman, Minggu (18/10/2015).

Informasi yang dihimpun Tribun Bali dari warga Banjar Bukit Tabuan, prasasti yang berada di Pura Bhur Lokha sudah ada sejak para leluhur mengenal salat telu waktu atau sembahyang tiga waktu.Meraka datang membawa sesajen menggelar ritual di sekitar prasasti tersebut.

Ritual itu dilaksanakan sebelum dan sesudah mengelar panen raya dan mengucapkan rasa syukur. "Kerukunan ini sudah terjadi sebelum kami ada. Sampai sekarang hingga ke depannya toleransi akan kami junjung,” jelas Mahyudin.

Bendesa Adat Seraya, I Nyoman Matal mengaku ikatan persaudaraan umat Hindu dan Islam di Banjar Bukit Tabuan telah terjalin sejak dulu.

Tali persaudaraan itu diikat sebuah prasasti yang merupakan warisan leluhur. Ia menambahkan, umat Hindu dan Islam di Bukit Tabuan terkadang menyampaikan rasa syukur di prasasti peninggalan leluhurnya.

Sumber : Tribunnews Bali

Sepasang Suami Istri di Jawa Tengah Lebih Memilih Masuk Agama Hindu, Apa Alasannya Memilih Agama Hindu?

Pura Dharma Loka Jepara Jawa tengah mendadak ramai dikunjungi dengan pakaian adat khas Bali, Ada apa gerangan? o o o… ternyata ada sepasang suami istri di Suddhi Wadani (masuk Agama Hindu). Ruji(Suami) dan Very(Istri) yang sebenarnya baru saja menikah beberapa hari yang lalu.

Sepasang suami istri tersebut berasal dari Agama Muslim (Islam) dan dari keturunan orang Muslim juga. Sepasang suami istri tersebut diupacarai Suddhi Wadani oleh Ketua PHDI kab. Jepara Bapak Ngardi dan Pemangku Supaeno di pura Dharma Loka desa Plajan (Merupakan desa wisata Jepara), yang di hadiri juga oleh Peradah Jepara, Perwakilan pemuda Hindu Singkawang Kalimantan Barat, umat Hindu setempat serta pihak dari keluarga suami,istri serta para saksinya.

Foto Pernikahan Ruji dan Very

Memang bisa dikatakan sedikit aneh, baru beberapa hari menikah dan asal mula mereka pemeluk agama Islam (Muslim), tetapi selang beberapa waktu mereka sepakat untuk menjadi umat Hindu. Dari kabar yang ada dan dari pembicaraan saya dan Ruji (yang di suddhi wadani), dia mengaku sudah lama tinggal dengan Bapak Supar (salah satu umat Hindu di Jepara) dan semenjak itu Ruji sedikit demi sedikit memahami Hindu dan serta ketenangan batinya akan adat jawa yang bisa dikatakan condong ke arah leluhur yang bisa dikatakan kental dengan ajaran Hindu, karena Hindu mengajarkan Pitra Yadnya serta Tri Hita Karana. Oleh sebab itulah Ruji selaku suami dari Very sudah bulat tekat dan batinya untuk memeluk agama Hindu.

Walaupun tidak sedikit rintangan yang menghadang mereka seperti untuk meyakinkan orang tua masing-masing dari mereka, keluarga mereka, bahkan cemo’ohan dari pergaulan serta dari tetangga-tetangga mereka yang tidak berkenan akan keputusan mereka. Yah, habis gelap terbitlah terang. Kini mereka sudah sah sebagai pemeluk Hindu. Semoga perkawinan mereka selalu dianugrahi Sang Hyang Widhi Wasa dengan menjalankan ajaran-jaran Hindu.

Kiranya ini bisa dijadikan contoh dan peningkat Sradha bagi umat Hindu di seluruh daerah, khususnya bagi muda mudi Hindu yang belum menikah agar menjaga dan mempertahankan keyakinan Sradhanya di Hindu. Dalam bahasa asal “orang non Hindu tidak ada dasar Hindu, tidak ada garis keturunan Hindu saja bisa dan kuat menghadapi rintangan yang terbilang berat untuk menjadi Hindu, masak kita sebagai muda mudi Hindu tidak bisa sehebat dan sekuat mereka berdua untuk mempertahankan dan menjalankan Hindu kita?”.

Memang ada beberapa kejadian, mungkin bisa dikatakan banyak pemuda dan pemudi Hindu yang keluar dari Hindu dikarenakan beberapa faktor seperti Pernikahan (Cinta atau kasih sayang), broken home dan bahkan mungkin dikarenakan harta atau alasan lainya. Tetapi “APAKAH ITU PANTAS?” tidak malu kah mereka kepada teman, saudara, orang tua? tidak malu kah mereka kepada Sang Hyang Widdhi? dan apa mereka itu tidak malu juga kepada diri mereka sendiri serta hati kecil mereka yang kebanyakan masih cinta kepada Hindu? sudah banyak contoh Karma yang terjadi kepada mereka yang melepaskan Hindu-nya.

Sudah banyak pula mereka itu yang menyesali itu. Apa kita mau mengambil resiko itu? saya kira lebih baik mengatakan dalam hati dan dalam diri “Pakaian saya mungkin rombeng, tetapi hati dan diri saya Hindu”.
Demikian kiranya bisa menjadi penambah Sradha (Keyakinan) bagi pemeluk Hindu di Nusantara.

Saya bukanlah jurnalis penulis berita, hanya menyampaikan informasi yang ada dari Umat Hindu Jepara Jawa Tengah. Kiranya ada kekurangan dalam penulisan, kesalahan, atau kata-kata yang kurang pas pada tulisan ini saya pribadi mohon ma’af.

Sumber : hindujepara.wordpress.com , republished by Mediahindu.com

Kisah Nyata: Saya Memilih Agama Hindu Dan Perjuanganku Menggapai Hindu

Perkembangan Hindu di Hongkong

Semua berawal ketika saya masih kecil, saya dilahirkan di Yogjakarta Hadiningrat dalam keluarga islam. Namun ada beberapa orang yang masih menganut kejawen salah satunya adalah kakek saya. Saya banyak mengetahui tentang kejawen tapi saya tidak tahu antara kejawen dan hindu banyak kemiripan boleh di bilang hampir sama. Saya juga suka pergi ke candi peninggalan kerajaan Hindu dan betah berlama-lama disana. Seakan saya menemukan ketenangan tersendiri, itu saya lakukan tanpa sepengetahuan keluarga saya karena jika ketahuan saya pasti kena marah. Aneh yae, seharusnya saya rajin ke masjid bukan ke candi tapi itulah yang saya lakukan.

Mengingat keluarga saya yang tidak mungkin menerima jika saya memilih agama Hindu, saya selalu melakukan itu dengan sembunyi. Saya belajar dan kesana kemari dan berusaha mencari lebih banyak lagi tentang Hindu. Dan meyakinkan diri bahwa Hindu memang terbaik buat saya. Saya tidak ingin setelah memeluk Hindu namun belum mempunyai keyakinan yang tetap maka saya akan kembali kepada agama semula.

Semakin saya mengetahui Hindu yang sebenarnya, maka kemantapan saya semakin bertambah. Namun saya belum cukup berani menanggung resikonya, terutama kemarahan keluarga saya. Tapi hati saya berontak terhadap agama sebelumnya, hati saya telah yakin bahwa saya lebih mencintai Hindu sebagai agama pilihan saya.

Pergolakan batin itu terus berlanjut tanpa tahu kapan akan berakhir? kapan aku punya kekuatan dan nyali untuk mengakui bahwa aku ini Hindu? Hingga suatu hari aku bertemu dengan teman umat sedharma yaitu mbak luluk dari Banyuwangi dan yeni yang sama-sama bekerja di Hongkong. Aku utarakan niat ku kepada mereka dan aku tanyakan dimanakah puranya? Dan ternyata mereka menemukan aku dengan teman sedharma yang lain yang telah mempunyai perkumpulan di Hongkong.

Dari sambutan teman-teman yang sangat bersahabat itulah aku menemukan ketenangan, kehausan hatiku seakan terobati dan aku mulai gundah dengan keadaan ini. Aku harus mempunyai pilihan, setelah aku pikirkan matang bahwa inilah pilihan yang terbaik buat ku yaitu meninggalkan agama islam dan memeluk Hindu sebagai agama ku.

Apakah semudah itu? Ternyata tidak! Apa yang aku takutkan selama ini menjadi kenyataan, saat mendengar aku pindah agama Hindu ibuku langsung pingsan dan akulah yang disalahkan oleh seluruh keluarga, teman dan saudara. Bahkan aku dilarang pulang ke yogjakarta karena dianggap sebagai anak durhaka dan murtad.

Air mata mengalir tak henti-henti, keluarga membenciku, teman-teman muslim di hongkong menjauhiku. Bahkan ada yang tega menghasut majikan ku agar aku dipecat. Semua membuatku bingung, namun kehadiran teman-teman sedharma selalu memberi ku semangat, kekuatan, ketegaran dalam menghadapi ini semua dan meyakinkan bahwa aku tidak sendiri. Itu semua membuat aku tenang.

Hanya kesabaran yang aku miliki untuk menerima ini semua sebagai cobaan dari Ida Sang Hyang Widi Wasa dalam menguji keyakinan ku, apakah aku benar-benar memilih Hindu sebagai agama ku. Berat memang namun aku yakin bisa melewati semua ini.

Sebagai penganut Hindu yang baru, tentu aku masih terlalu awam untuk mengerti apakah Hindu yang sebenarnya. Maka dukungan dari teman-teman sangat saya harapkan. Mulai dari bagaimana cara sembahyang (Tri sandya) dan juga mantra-mantra yang harus aku pelajari dari nol.

Dukungan dan semangat yang terus mengalir dari teman-teman sedharma membuatku bahagia, bahwa diantara kesedihan yang diberikan pada ku masih terselip kebahagiaan.

Bukankah Sri Kresna bersabda: tiga pintu gerbang neraka yang menuntun jiwa menuju kehancuran adalah nafsu, amarah dan ketamakan. Itulah yang aku jadikan pegangan dalam menghadapi segala cobaan dan rintangan ini.

Laksana tangga yang ku tapaki dengan hati yang mantap, jatuh bangun kurasakan dalam menggapai Hindu, Bukan hal yang mudah untuk di lewati. Begitu juga harapan ku kepada semua teman di Hongkong: Jadilah sinar yang menerangi kegelapan bukan hanya untuk diri sendiri tapi juga untuk orang lain. Lupakan ego dan kepentingan pribadi, bersatulah agar kita tidak dipandang sebelah mata oleh orang lain.

Dengan bergandengan tangan membangun Hindu, dengan kesadaran bahwa Hindu adalah milik kita bersama maka kita akan menjadi umat yang lebih baik. Harapan ku disini setelah segala cobaan yang aku hadapi ini aku akan memetik hasil yang lebih manis dan diterimanya aku kembali oleh keluarga ku.

Penulis : Ayu sekartaji

July 8, 2016

Kisah Sedih Roh Pak Made Akibat Meninggalkan Hindu Demi Cinta Buta

Pada saat ini di beberapa daerah di Bali sedang dilakukan upacara Ngaben (upacara pembakaran mayat yang biasa dilakukan oleh umat Hindu). Ada sebuah kisah seorang yang kini ikut di abenkan. Kisah ini saya dengar dari saudara istri saya di Klungkung.

Kisah ini dimulai pada akhir tahun 1960-an. Satu keluarga di Klungkung yang cukup berada, mengirimkan anak-anaknya untuk bersekolah di Yogyakarta. Anaknya yang nomor dua, sebut saja namanya Made, sebelum tamat kuliah menikah dengan seorang gadis setempat, secara pernikahan agama lain. Perkawinan ini tidak dapat diterima oleh orang tuanya. Made dianggap anak hilang. Sejak ini hubungan orang tua dan anak putus. Made tidak pernah pulang ke Klungkung. Bahkan ketika kakaknya yang tertua menikah dan ayahnya meninggal dia tidak datang. Ibunya demikian juga. Sekalipun sering ke Yogya menengok anak-anaknya yang lain, ia tidak pernah menemui keluarga Made.

Sejak menikah Made tidak meneruskan kuliahnya. Karena tidak lagi dibiyayai oleh orang tuanya, ia membiayai hidupnya dengan berjualan beras. Karena dia ulet, usahanya jadi berkembang. Hidupnya cukup makmur. Keluarga Made memiliki 3 orang anak laki-laki. Dua anaknya ikut Made masuk agamanya yang sekarang. Seorang anaknya entah kenapa menolak masuk agama orang tuanya. Ketika SD, anak ini pergi ke Bali, dan tidak mau balik ke Yogya. ia tinggal bersama neneknya di Klungkung.

Prosesi Ngaben di Bali via Bali-99.com

Lima tahun yang lalu Made meninggal, Istrinya menyusul 2 tahun kemudian. Untung anak-anak mereka, termasuk yang di Bali sudah selesai kuliah dan sudah ada yang bekerja.

Sekarang cerita kembali ke Bali. Sejak meninggal 5 tahun lalu, Made sering mendatangi ibunya di Bali, baik dalam mimpi maupun dalam keadaan terjaga. Ibu ini sekarang sudah berusia sekitar 70 tahun. Matanya sudah rabun berat. Tapi dalam jaga ia sering melihat anaknya made datang ke rumahnya, kadang-kadang duduk di tangga rumah, kadang-kadang menemuinya di dapur. Ingat ibu ini sudah rabun berat. Ia tidak bisa melihat siapapun. Tapi ia melihat sosok made yang sudah meninggal dengan jelas. Mungkin yang melihat adalah mata bathin-nya? Ia juga mendengar suaranya dengan jelas. Made sering mendatanginya dan menangis sedih sekali.

“Kenapa kamu Made,” tanya ibu ini satu kali.

Tyang ngidih pelih Me. Tulung kedetin tiang” (saya minta maaf Ma. Tolong tarik saya. Secara harfiah arti ‘kedetin’ ditarik dari tempat yang rendah ke tempat yang lebih tinggi, dari tempat yang gelap ke tempat yang terang, dari penderitaan kepada kebahagiaan , dari kematian kepada kehidupan. Arti simboliknya di Abenkan ( NGABEN).

“Tapi kulit Made kan sudah lain”. ( maksudnya agamanya kan sudah beda ).

“Ya, Saya salah jalan. Sekarang saya berada di lorong yang gelap. Saya tidak bertemu siapa-siapa. Saya dengar istri saya sudah meninggal. Tapi saya tidak bertemu dengan dia. Saya kesepian sekali di sini, Me.

Tolong kedetin tiang”.

Walaupun hatinya iba, ibu tua ini tidak berani mengabenkannya, karena Made sudah masuk agama lain dan di upacarai menurut keyakinan agama tersebut. Betapapun anaknya yang hilang kini telah kembali walaupun dalam bentuk roh. Tapi begitu nyata. Begitulah tampaknya hubungan ibu dengan anak.

Entah karena kehendak siapa, kira-kira dua bulan lalu ibu tua ini kedatangan 2 orang tamu. Kedua orang muda itu mengaku datang dari Yogya. Mereka adalah anaknya Made. Jadi secara biologis mereka adalah cucunya, entah secara batin yang tak pernah di lihatnya secara kecil. Kini mereka datang. Dan ia tak dapat mengenali mereka karena ia rabun berat. Tapi ia dapat mendengar suara mereka dengan jelas.

Setelah masing-masing memperkenalkan namanya, salah seorang dari mereka berkata: “sebelum ibu kami meninggal tiga tahun yang lalu, ia memberi tahu kami bahwa ayah sebelum meninggal liam tahun lalu, berpesan kepada Ibu agar ia di upacarai secara Hindu. Tapi ibu tidak pernah menyampaikan pesan itu kepada siapapun sampai sebelum ibu meninggal tiga tahun yang lalu.

Selama dua tahun pesan Made di pendam oleh istrinya. Selama tiga tahun lagi di pendam oleh anak-anaknya. Tiba-tiba dua bulan lalu mereka berniat untuk menyampaikan pesan itu kepada neneknya di Klungkung, Bali. Apakah Pak Made yang memberitahu anak-anaknya, melalui mimpi atau dalam jaga, seperti ia membritahu ibunya? Anak-anaknya tidak menyebut-nyebut soal ini.

Setelah mendengar wasiat Made yang tertunda selama lima tahun, keluarga di bali langsung ke Yogya untuk membongkar kuburan Made, mengambil tulangnya untuk di aben di Bali. Tapi oleh petugas pemakaman permintaan pembongkaran itu di tolak. Karena dulu Made dikubur secara agama LAIN BUKAN Hindu. Keluarga ini pulang ke Bali. Pengabenan Made tetap dilangsungkan. Ia dibuatkan pengadeg-adeg (semacam simbol dari Made) dari kayu cendana.

Mudah-mudahan setelah pengabenan Made bahagia dan tentram di dunia sana.

Demikianlah kisah nyata yang diceritakan oleh Bapak NGAKAN MADE PUTU PUTRA INI. Menurut tanggapan saya, ceritanya ini sangat menarik. Jadi pesannya: apapun agama, bagaimana pun susah dan ketatnya agama tersebut, seberapa besarpun kecintaan kalian terhadap seseorang, sebaiknya jangan coba-coba untuk berpindah keyakinan karena mungkin saja agama tersebut belum tentu cocok untuk kalian. Karena Tuhan telah menentukan takdir kalian dimana sejak lahir, maupun masih dalam kandungan Ibu.

Tapi sebenarnya juga Tuhan itu hanya ada satu. Menurut pandangan saya, agama adalah suatu organisasi atau kelompok yang menyembah tuhan dengan nama dalam bentuk yang mungkin berbeda-beda. Tapi yang mereka semua sembah itu adalah sama, yaitu Tuhan.

Penulis : Raras Sani