Showing posts with label Cerita. Show all posts
Showing posts with label Cerita. Show all posts

July 9, 2016

Minim Cowok di Bali , Kini Mencari Sentana di Bali Bikin Galau

Sekarang kebanyakan rumah tangga Bali memprogramkan punya anak cukup 2 saja. Bahkan tidak sedikit keluarga yang punya anak cuma 1 orang. Sehingga sering ada kelakar bernada keluhan : “Nama Nyoman dan Ketut sekarang makin langka di Bali.” Kalaupun ada yang sampai punya anak 3, kebanyakan karena 2 anak sebelumnya lahir perempuan. Sehingga berharap anak ke-3 akan lahir anak laki-laki.

Konon sekarang ini kebanyakan yang lahir adalah anak-anak jenis kelamin perempuan. Nyatanya banyak keluarga yang punya anak 2 atau bahkan anak tunggal perempuan. Kalau anak pertama kebetulan lahir cowok (laki-laki), cenderung keluarga tersebut akan bertahan, berhenti punya anak lagi karena dirasakan sudah cukup punya anak 1, apalagi sudah dapat anak laki-laki.

Begitulah kecenderungan sekarang pada keluarga di Bali. “Punya anak 1 atau 2 sudah cukup. Yang penting sehat, bisa menghidupinya, menyekolahkannya. Lagipula kalau punya anak banyak, biaya hidup, biaya untuk menyekolahkan nanti bebannya sangat tinggi,” demikian alasan yang sering kita dengar. Nah semasih kecil, saat sekolah dan hingga menginjak remaja semua berjalan baik-baik saja. Bahkan orang tua semangat menyekolahkan setinggi-tingginya, tanpa memandang dan membedakan anak perempuan atau anak laki-laki.

Pernikahan Adat di Bali (foto rka)

Mulai Galau, Ketika Anak Sudah Mulai Dewasa

Setelah tamat sekolah atau kuliah, kemudian bekerja. Si orang tua yang kebetulan punya anak tunggal atau semuanya perempuan, akan mulai dihinggapi kegalauan. Anak sudah beranjak dewasa, sudah sepantasnya untuk membina rumah tangga. Kalau punya anak 2 orang semua perempuan, anak yang mana diajak di rumah? Maukah dia dicarikan sentana?

Sentana adalah posisi laki-laki dalam perkawinan menjadi posisi perempuan. Dan nantinya melakukan segala sesuatunya menggantikan posisi mertua laki-laki dalam urusan adat di rumah atau lingkungan keluarga istri.

Kalaupun mau, dan seandainya sudah punya pacar, sudahkah mereka sampaikan ke pacarnya bahwa dia akan tinggal di rumah keluarga si istri nantinya. Maukah (siapkah) pacarnya nyentana ?

Itulah kegalauan perasaan dan pikiran para orang tua terhadap anak gadisnya yang sudah beranjak dewasa. Di Badung, Denpasar, Gianyar dan Tabanan tradisi (adat) nyentana itu masih bisa diterima. Namun meski diterima secara adat, nyatanya banyak anak gadis dan para orang tua didera perasaan galau. Karena “terbatasnya” anak laki-laki yang tersedia dan bersedia nyentana. Pada masa lalu, mungkin masih mudah mencari sentana. Karena sebuah keluarga Bali sudah biasa punya anak banyak. Sehingga saat itu nama Nyoman, Ketut bahkan Wayan Balik, Made Balik banyak kita jumpai.

Kondisi yang sebaliknya sekarang ini, menjadikan bukan saja para orang tua yang diliputi perasaan was-was dan galau, para gadis pun tidak kurang diterpa oleh “beban” pikiran itu. Maka tak sedikit mereka menumpahkan perasaannya di media sosial dengan berbagai ungkapan, kadang bercanda, menggelitik, bahkan juga serius. Ungkapan-ungkapan yang mengarah untuk mencari sentana itu, mengundang candaan laki-laki untuk sekedar jail atau iseng.

Sebagian daerah di Bali menerima tradisi nyentana. Namun sebagian lagi daerah di Bali tidak ada (belum menerima) tradisi nyentana. Ditambah sekarang, keluarga di Bali kebanyakan keluarga punya anak 1 atau 2 orang. Menjadikan usaha sebuah keluarga maupun anak gadis untuk mencari sentana lumayan membuat galau. (via Suluhbali.co)

Pulang Sebelum Calonarang Usai Bisa Dicegat Leak, Mitos atau Fakta ?

Nampaknya kepercayaan larangan pulang lebih awal sebelum pertunjukan calonarang usai bisa dicegat leak bukan sekedar mitos, namun memang benar-benar terjadi.

Menurut Ketut Kodi, SSP, M.Si seorang dalang dan juga seniman calonarang mengatakan hal itu bisa terjadi karena pada pertunjukan calonarang ada namanya gending tunjang. Gending ini merupakan salah satu gambelan pengiring pada pertunjukan calonarang, dimana mampu membangkitkan kekuatan para leak.

Salah satu adegan dalam pertunjukan calonarang

“Di gambelan tunjang ada aksara dan suara yang mampu membangkitkan kekuatan leak,” ungkapnya. “Maka setiap ada calonarang tidak diperkenankan untuk pulang pada pertengahan pertunjukan,” kata Ketut Kodi pada Seminar Membedah Etika Tari Rangda, di Rumah Topeng dan Wayang Setiadharma, Ubud, Gianyar, Minggu (27/3/2016).

Karena para leak dibangunkan, hal ini kemudian membuat mereka (para leak) keluar dan menari-nari berkeliaran di dekat lokasi pertunjukan calonarang. “Karena dibangkitkan, para leak akan ngigel di perempatan, di jalan dan di dekat lokasi pertunjukan,” ujarnya.

Jika memaksakan diri untuk pulang sebelum usai pergelaran calonarang bisa saja akan bertemu dengan berbagai wujud leak di perjalanan, “jika pulang lebih awal, maka pulang dari calonarang bisa bertemu dengan wujud leak seperti bojong (monyet…red), kambing, babi dan sebagainya,” ungkap Kodi.

Sumber : Suluhbali